Berita dan Buletin Ginsi Jatim - Ginsi Jatim Siap Bangun Komunikasi tentang Penetapan Tarif Kepabeanan

Ginsi Jatim Siap Komunikasi Penetapan Tarif Kepabeanan

Badan Pimpinan Pusat (BPP) Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) akhirnya menetapkan Romzy Abdullah Abdat sebagai Ketua BPD Gabungan Importor Seluruh Indonesia (Ginsi) Jawa Timur, pada Selasa (13/11) di Surabaya.

Penetapan ini sesuai dengan mandat nomor 10.01/bpp-mandat/XI/2017 tentang kepengurusan BPD Ginsi Jatim secara definitif kepada Romzi Abdullah Abdat.

Mandat ini diberikan karena Musyawarah Daerah (Musda) BPD Ginsi Jawa Timur yang berakhir deadlock beberapa waktu lalu. Sehingga kepengurusan Ginsi BPD Jatim yang dipimpin Bambang Sukardi pun dinyatakan demisioner.

Ketua BPD Ginsi Jatim, Romzy Abdullah Abdat mengatakan, anggota Ginsi Jatim yang aktif 600 importir, banyak rintangan yang dihadapi para importir, mulai dari biaya logistik yang tinggi, masih adanya jaminan kontainer hingga permasalahan lainnya.

“Kami juga akan melakukan kerjasama pemeriksaan kontainer kosong,” ujarnya di sela sosialisasi Permen perdagangan nomor 63 tentang besi baja di Surabaya, Selasa (14/11).

Turut hadir wakil ketua II Ginsi Hasan Siregar, Sekjen Ginsi Erwin Taufan, Kadin Jatim, Kadin Surabaya dan pengusaha lainnya. Romzy menambahkan, pihaknya juga membuka komunikasi lagi agar dalam hal penetapan tarif baru kepabeanan, pelayanan pelabuhan dan terkait impor, Ginsi dilibatkan.

Diakui Romzy, saat ini impor baja dan besi pasarnya sedang tumbuh, sebab pembangunan infrastruktur yang digenjot pemerintah turut menarik bagi importir.  Waki ketua II BPP Ginsi, Hasan Siregar mengatakan, saat ini tarif logistik di Indonesia masih tinggi, Ginsi pun berupaya meniadakan jaminan kontainer melalui mekanisme asuransi yang lebih memberi keringanan pada pengusaha.

“Ini sudah jalan di beberapa daerah,” terangnya.

Hasan berharap, dengan ditetapkannya ketua baru ini, bisa membantu pengembangan usaha impor di Jawa Timur. Apalagi anggota Ginsi Jatim merupakan terbanyak kedua setelah DKI Jakarta.

Saat ini jumlah importir di Indonesia sekitar 26.000, hanya sekitar 1.200 importir yang aktif di Ginsi.

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *